Diskusi Daring “Kontroversi di Era Digital : Perlukah Kode Etik Bagi Influencer ?”


Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta melaksanakan Diskusi Daring dengan mengangkat tema “Kontroversi Informasi di Era Digital : Perlukah Kode Etik Bagi Influencer?” pada hari Rabu, 23 September 2020 yang lalu pukul 16.00 -17.30 WIB. Diskusi daring ini mengundang narasumber yaitu Shinta Maharani selaku jurnalis Tempo dan Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta serta Septiaji Eko Nugroho selaku Ketua Presidium MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) dan moderator Stevanus Febryanto Wahyu Susilo yang merupakan mahasiswa dari Magister Ilmu Komunikasi UAJY. Diskusi ini dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Influencer berasal dari Bahasa inggris “influence” yang berarti pengaruh. Jadi, influencer dapat juga diartikan sebagai orang yang memberi pengaruh. Dalam dunia pemasaran secara online, Influencer umumnya dapat memberi pengaruh untuk membeli suatu barang. Tetapi, dalam perkembangannya influencer diasosiasikan sebagai orang yang menyalurkan berita atau mengajak pengikut sosial medianya untuk mengikuti kampanye, gerakan atau suatu kegiatan.

Berdasarkan penelitian Universitas Oxford, Indonesia termasuk dalam negara yang menggunakan media sosial untuk urusan politik sehingga menurunkan tingkat kepercayaan pada media. Influencer merupakah salah satu pihak yang juga sering menyuarakan pendapatnya yang dapat menggiring opini publik, padahal pendapatnya belum tentu benar dan bisa jadi menyesatkan. Maka, untuk meminimalisir kesalahpahaman, penting untuk memiliki etika dalam menggunakan media sosial terlebih bagi para influencer agar mereka dapat lebih bertanggung jawab dan berfikir lebih jauh mengenai konsekuensi dari apa yang disuarakan melalui sosial medianya.