Webinar Magister Ilmu Komunikasi : Media Digital dan Agama di Masa Pandemi


Pada hari rabu, 8 Juli 2020 telah dilaksanakan diskusi daring dengan tema media digital dan agama di masa pandemi. Diskusi ini dipandu oleh Bapak Dr. Lukas Ispandrino sebagai moderator. Kemudian diisi dengan 5 pembicara yakni, Bapak Savic Ali, Bapak Albertus Bagus Laksana SJ, PhD, Ibu Tabita Kartika Christina, PhD, dan Bapak Yohanes Widodo M. Sc. Diksusi daring berlangsung pada pukul 19.00 hingga 21.30 WIB.

Menurut Bapak Yohanes Widodo sebagai Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY, Agama dapat dinikmati dengan internet, salah satunya paroki.net. Gereja menyikapi internet sebagai hal yang positif, tetapi juga memiliki potensi negatif yakni, internet diangkat sebagai sumber dari dosa-dosa besar. Sebetulnya handphone sangat tidak disarankan ada di Gereja Khatolik, namun seakan-akan umat di Gereja Khatolik tidak dapat dipisahkan dengan handphone. Kehadiran Gereja Khatolik di internet salah satunya mirifikanews, iman khatolik di bawah KWI. Sedangkan yang tidak dibawa KWI adalah, sesawi. Media digital di masa pandemi, Gereja Khatolik masih melaksanakan misa tetapi tetap menjalankan protokol kesehatan, namun ketika keadaan mulai memburuk akhirnya memaksa Gereja untuk going digital. Sehingga media digital berdampak pada katekese baru, membangun relasi, dan interaksi, pertempuran wacana membangun dialektika, dan gereja makin terbuka.

Lalu menurut Ibu Tabita Christiani sebagai Dosen Teologi UKDW, mengatakan bahwa gereja cenderung tidak siap dalam menghadapi digitalisasi. Banyak umat kristen yang menerima pandemi COVID-19, namun tetap dikritisi bahwa adanya kapitalisasi dan marginalisasi kepada kelompok yang tidak bisa mengakse ibadah online, karena beberapa sebab. Digitalisasi pada gereja dapat menjadikan komunikasi antara publik dan gereja. Dampak digitalisasi lainnya adalah, tidak adanya dampak privasi dan publik di dalam gereja. Tentu saja masa depan agama tidak ada di online, media digital hanya sebagai cara pewartaan bukan sebagai masa depan.

Kemudian menurut Bapak Savic Ali sebagai Direktur NU Online mengatakan pada pandangan muslim, jumat’an dengan jumlah umat lebih dari 40 orang diganti dengan zuhur. Kemudian terdapat komunitas-komunitas lain yang memaksa tetap ada jumat’an. Selain itu, aktivitas naik haji juga diliburkan. Pendidikan agama memiliki dampak yang besar, daripada peibadatan. Sehubungan dengan hal tersebut, madrasah ataupun pesantren menjadi diliburkan.

Sedangkan menurtut Bapak Albertus Bagus Laksana sebagai Dosen Fakultas Teknologi Universitas Sanata Dharma, mengatakan poin kedudukan antara agama dan covid-19, banyak hal yang berubah dalam era internet, seperti sejarah, dan peradaban yang sangat khusus. Secara teologis, adanya internet seperti adanya penciptaan era baru oleh Tuhan. Pada masa depan gereja akan lebih cair, karena adanya relasi antar manusia secara internet dengan adanya cara hidup yang baru. Namun tidak ada sakramen digital,  tidak ada sakramen yang dapat digantikan tanpa pertemuan fisik. Terdapat penelitian terhadap sebanyak 1500 responden yang mengikuti misa live streaming, menemukan bahwa adanya kultur tradisional, adanya faktor pendidikan seperti D1, S1, dsb memiliki frekuensi misa online lebih sering karena memilki teknologi yang cukup. Kebanyakan reseponden memilih channel dari keuskupannya sendiri atau lembaga yang dikenal secara teritorial. Biasanya misa dilakukan dengan bersama-sama jarang sekali dilakukan sendiri. (EK SS)