Workshop Daring Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana UAJY : Peran Influencer sebagai Komunikator Publik


Program Studi S2 (Magister) Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta   mengadakan workshop daring melalui platform Zoom dan disiarkan Live melalui Youtube Pascasarjana UAJY, pada tanggal 30 Oktober 2020. Workshop ini mengangkat topik “Peran Influencer sebagai Komunikator Publik” dengan moderator Dr. Lukas Ispandriarno, MA. Beberapa narasumber yang hadir yaitu, Septiaji Eko Nugroho dari MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Meliza Gilbert (Presenter TV), dan Shinta Maharani (Aliansi Jurnalis Independen). Acara dihadiri mahasiswa MIK, beberapa influencer dan jurnalis.

Septiaji Eko Nugroho menyampaikan bahwa content creator memiliki hak untuk menyampaikan informasi, kebebasan berpendapat, tetapi tentu ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan. Selain itu, diharapkan content creator juga memastikan bahwa konten tersebut tidak menyinggung serta tidak berpihak. Tanggung jawab content creator tidak mudah, mereka harus paham betul informasi yang akan disampaikan sehingga tidak menyebarkan informasi salah, terlebih pada isu moral dan keagamaan.

Narasumber 2 : Meliza Gilbert

Platform yang digunakan oleh content creator atau influencer harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Penyampaian informasi sebaiknya juga perlu berdasarkan jurnal riset dan fakta agar tidak ada informasi yang menyesatkan. Menurut Meliza Gilbert, content creator harus tahu dan mengerti bagaimana caranya menyampaikan informasi ke publik terlebih mereka  yang baru memulai karirnya. Content creator yang sudah lama menekuni pekerjaannya umumnya lebih mengerti hal-hal teknis seperti bagaimana cara membuat gambar yang menarik hingga etika yang ada.

Shinta Maharani menjelaskan content creator atau influencer sebaiknya memiliki keahlian khusus atau pengetahuan lebih. Influencer yang memiliki keahlian khusus akan lebih baik dan tepat dalam  menyampaikan informasi karena mereka menyampaikan hal yang berhubungan dengan bidang yang ditekuni.

Mirnawati bersama tim yang ikut dalam worskhop menjelaskan  etika dasar yang sebaiknya dimiliki oleh seorang content creator.  Etika dasar yang dimaksud seperti tidak menyampaikan informasi bohong, independen, akurat, tidak menghakimi atau berpihak, tidak mencampurkan fakta dengan opini, tidak berpraduga tak bersalah serta harus menguji informasi yang akan disampaikan.